اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ
أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ
كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ
الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ
وَللهِ اْلحَمْدُ. الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزّمَانِ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ
عَلَى بَعْضٍ فَخَصَّ بَعْضُ الشُّهُوْرِ وَالأَيَّامِ وَالَليَالِي بِمَزَايَا
وَفَضَائِلِ يُعَظَّمُ فِيْهَا الأَجْرُ والحَسَنَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ.
اللّهُمَّ صَلّ وسّلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وِعَلَى آلِه
وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ. أمَّا بعْدُ، فيَا
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ
فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ
الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ.
Jamaah shalat ied rahimakumullah
Mari kita berupaya bersama sama
senantiasa menyadari, bahwa Allah bagitu banyak melimpahkan karunia-Nya kepada
kita, banyak teramat banyak bahkan tak terhingga, sehingga kita takkan mampu
menghitungnya, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran :
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ
رَحِيمٌ
Jika kamu
menghitung nikmat Allah, niscaya
kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah maha Pengampun
lagi maha Penyayang ( QS An-Nahl : 18 )
Allah bagitu baik kepada kita, Nikmat-Nya Allah yang
tiada putus, padahal pada saat bersamaan boleh jadi kita dalam keadaan
bermaksiat kepada Allah, mungkin kita dalam keadaan tidak taat kepada-Nya, Nyatanya
begitu banyak orang yang tidak mau bersyukur. Sebagaimana diterangkan dalam firman
Allah ;
إِنَّ اللهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ
يَشْكُرُونَ
Sesungguhnya Allah memberikan karunia kepada manusia,
tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur ( QS Al-Baqarah : 243 ).
Alhamdulillah di pagi nan indah ini, kita masih bisa
makan makanan yang enak, tinggal di rumah yang nyaman, berpakaian serba baru,
di saat bersamaan saudara-saudara kita di Lombok, sedang dalam keadaan sulit,
makan serba susah, rumah mereka roboh karena gempa, diliputi oleh ketakutan,
kelaparan, kedinginan, tidur hanya beralaskan bumi, beratapkan langit.
Belum lagi anak-anak yatim piatu, yang orang tuanya sudah
meninggal karena musibah ini, tiada ayah, tiada ibu, hidup sebatang kara, tiada
tempat mengadu kecuali kepada Allah,
“Ya Allah, bantulah saudara-saudari kami di lombok, di
Palestina, di belahan bumi lainnya yang sedang sedih, sehatkah yang sakit,
mudahkan yang susah, terimalah yang meninggal dunia sebagai orang yang syahid
di jalan mu”
Rasulullah SAW
telah bersabda,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لاَ يَهْتَمْ بِأُمُوْرِ اْلمُسْلِمِيْنَ
"Tidaklah termasuk golongan kita, mereka yang tidak
peduli dengan persoalan-persoalan umat Islam."
Kaum muslimin idul adha rahimakumullah
Setidaknya ada 3 pesan penting dalam khutbah ini yang
ingin khatib sampaikan,
Pertama; Idul adha adalah lambang kerbersamaan umat
Islam, karena nya ada Haji, ada kurban. Haji waktu dimana seluruh umat Islam
dari seluruh dunia bersama-sama kumpul di satu waktu menunaikan rukun Islam
yang kelima, kurban yang dagingnya dibagikan kepada seluruh umat Islam baik
yang dhuafa, faqir miskin dan mampu, semua bersama-sama merasakan idul adha,
Oleh karenanya saat ini saudara-saudara kita yang ada di
Lombok, membutuhkan kita, membutuhkan uluran tangan kita, dan yang terpenting
membutuhkan do’a-do’a kita,
Rasulullah SAW bersabda,
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
"Orang Islam yang satu dengan yang lainnya bagaikan
sebuah bangunan yang saling menguatkan."
Dalam hal berkurban, Jika kita ada kemampuan untuk
berkurban untuk saudara-saudara kita di Lombok ataukah di Palestina atau dunia
Islam lainnya yang sedang kesusahan maka laksanakanlah, paling tidak di daerah
tempat kita tinggal.
Rasulullah menekankan kepada umatnya yang mampu untuk
menyembelih binatang qurban dengan sabdanya:
من كان له سعة ولم يضح فلا يقربن مصلا نا
Barang siapa mempunyai kemampuan berkurban, tetapi tidak
melakukannya, maka janganlah mendekat tempat shalatku” (HR Ahmad ibn Majah dari
Abi Huarairah)
Kaum muslimin shalat idul adha rahimakumullah
Kedua; meneladani kebersamaan yang dilakukan oleh Nabi
Ibrahim A’laihissalam, Nabi Ismail, dan Sayyidah Hajar Istri Ibrahim,
Lihatlah bagaimana mereka, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
dan Siti Hajar yang bersama-sama beribadah kepada Allah, berkurban karena
Allah,
Nabi Ibrahim yang begitu mencintai sang anak, Ismail
Alaihissalam namun beliau kurbankannya karena Allah,
Nabi Ismail yang dengan Ikhlash, menerima apapun yang
menjadi ketetapan Allah, ia rela dikurbankan untuk Allah ta’ala,
Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an surat Asshoffat:
102
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي
الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ
مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup)
berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya
aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa
pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang
yang sabar.”
Dan Siti Hajar, punya peran yang tak kalah pentingnya,
Siti Hajar yang sangat sayang kepada anaknya, bertahun-tahun mendidik sangat
anak, agar menjadi anak yang sholeh, mendidik Ismail yang kelak juga menjadi
Nabi, namun ia rela terhadap keputusan suaminya agar sang anak dikurbankan
untuk Allah, sehingga Nabi Ismail digantikan dengan seekor kambing
Allah berfirman dalam ayat berikutnya:
إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ. وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ.
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ. سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ. كَذَلِكَ
نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ. إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ
“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan
Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk
Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,
(yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’. Demikianlah Kami memberi
balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk
hamba-hamba Kami yang beriman.”
Inilah contoh keluarga idaman, karena satu sama lain
saling membantu dalam kebaikan,
ketaqwaan kepada Allah, tidak saling menyalahkan, tidak saling mengkambing
hitamkan, tidak saling tuduh menuduh, apalagi saling curiga, Semoga Allah
menganugrahkan kepada kita keluarga sakinah mawaddah warohmah,
Kaum muslimin idul adha rahimakumullah
Jangan sampai kita termasuk keluarga yang dikisahkan
dalam Al-Qur’an,
Firman Allah (QS. `Abasa 80:34-37) dimana tidak ada lagi
tempat pertolongan kita :
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ(34)وَأُمِّهِ
وَأَبِيهِ(35)وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ(36)لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ
شَأْنٌ يُغْنِيهِ(37)
pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu
dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari
itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. (QS. `Abasa 80: 34-37)
Kenapa mereka saling bermusuhan? Padahal ketika di dunia
dulu saling mengasihi, saling menyayangi,
Jawabannya karena mereka tidak saling mengingatkan, tidak
saling tolong menolong dalam kebaikan, tetapi tolong menolong dalam kejahatan
dan kebatilan,
Kaum muslimin idul adha rahimakumullah,
Alangkah indahnya, saat kita meninggal dunia, kita bahagia
karena anak kita sudah bisa mengaji, sudah melaksanakan shalat. Ia mendoakan
kita, “Ya Allah, Ampuni dosa kedua orangtuaku, luaskan kuburannya, terangi
kuburannya, tempatkan ia di surgamu yang mulia” Alangkah senangnya hati kita,
alangkah bahagianya, tapi bagaimana jika sebaliknya? Anak kita tak bisa
mengaji, shalatpun tidak ia laksanakan, alangkah sedihnya.
Ketiga : Ikhlash dan mengikuti sunnah Nabi merupakan
pesan tak kalah pentingnya,
Rasulullah Shalallahi Alaihi Wasallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ لا يَقْبَلُ مِنْ الْعَمَلِ إِلا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا
وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ
Artinya: Allah tidak menerima amal, kecuali amal (ibadah)
yang dilandasi keikhlasan dan karena mencari keridhaan Allah SWT (HR. Nasa’i)
Keikhlasan dalam beribadah, akan menghantarkan diri kita
menjadi pribadi seperti pribadi Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Alaihimassalam, Keikhlasan
adalah motivasi utama siti hajar dalam mendidik Ismail sehingga menjadi anak
yang shalih,
Bahkan betapa banyak pertolongan Allah akan datang kepada
umat Islam, dari orang-orang yang ikhlash,
Dalam sebuah hadits disebutkan :
عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ ظَنَّ أَنَّ لَهُ فَضْلاً
عَلَى مَنْ دُونَهُ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ فَقَالَ نَبِىُّ اللَّهِ : إِنَّمَا
يَنْصُرُ اللَّهُ هَذِهِ الأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلاَتِهِمْ
وَإِخْلاَصِهِمْ
Dari Mush’ab bin Sa’d, dari bapaknya, bahwa dia menyangka
dirinya memiliki keunggulan dibandingkan para sahabat Nabi yang lainnya, maka
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allâh menolong umat
ini adalah dengan sebab doa, sholat, dan keikhlasan orang-orang yang lemah dari
umat ini.” [HR. an-Nasâ’i, no. 3191; dishahihkan oleh al-Albâni dalam Shahîhut
Targhîb, no. 6]
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ فِى اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، اِنَّهُ هُوَ
الْبَرُّ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ
أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ
تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ
فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ
تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا
الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ
عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ
اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى
بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ
الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ
أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ
وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ
اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى
الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا
بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ
اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ
اللهِ أَكْبَرْ
About the Author

0 komentar: